Assalamualaikum
Masih terngiang di ingatan saat Jum’at sore jelang maghrib di Dahana Jakarta, di petak 4 X 6 m ruang GM DTU, sebuah repertoar gitar klasik pernah berlangsung, sebuah hadiah khusus bagi dua audiencenya.
Dentingan-dentingan nada yang lahir dari senar nylon hasil permainan jemari di petak fingerboard 19 fret, Kombinasi lintasan jemari kiri dengan gerakan horizontal maupun petikan jari-jari tangan kanan yang melintas keenam dawai secara vertikal berhasil menciptakan pitch yang nyaris sempurna, lincah mendenting mulai dari Capriccio,Op.1 No.24, Romance de Amor, beberapa gubahan Chopin sampai Ayat-ayat Cinta-nya Rossa. Alunan gitar klasik yang telah hadir sejak tahun 1700an dengan nama viheula ini seakan fasih bertutur, membahasakan deret demi deret partitur yang memenuhi gendang kuping, laksana opium nan tenang membius dan seolah membawa sejenak raga ke dimensi lain, jauh meninggalkan dunia nyata. Sejenak nafikan riak-riak di awal tahun dari mulai menjamurnya demontrasi yang pasti berujung ricuh, kacaunya distribusi BBM, membaranya perang di jalur gaza, sampai polemik internal dari mulai SKEP baru penggunaan mess, asuransi kesehatan, pemutihan email, LPJ konsultan budaya sampai bursa calon direksi.
laiknya seperti mengikuti repertoar musik klasik, beberapa gubahan musik klasik bisa jadi terasa berat di kuping dan memusingkan, namun terbukti klinis efektif bagi ibu-ibu hamil untuk merilekskan diri dan janin diperutnya dengan stimulasi kognitif yang mampu menstimulasi perkembangan sel-sel otak bakal oroknya secara seimbang. Pun dalam menjalani hidup dalam suatu lingkup organisasi dengan segala dinamika dan pernik pasang surutnya, amat jadi beberapa yang tidak suka atau kurang nge-tune dalam menangkap esensi keindahannya memilih untuk langsung meninggalkan repertoar. Beberapa yang tetap tinggal bisa jadi karena mencoba adaptif atau bahkan sudah mampu memuarakan keindahannya, namun bisa jadi juga karena memaksakan diri bertahan dengan segala ketidaknyamanan yang diterima karena alasan dan pertimbangan masing-masing.
Konsistensi latar nada yang selalu mengalun didalamnya yang memuskilkan lahirnya jeda agar tetap terciptanya harmoni dan keindahan dengan keteraturan di dalam pakemnya yang tegas karena kekuatan dogma bernama susunan partitur, untuk lingkup organisasi dapat diartikan bahwa setiap riak yang melingkupi perputaran proses bisnis dengan rentang penerimaan terhadap kebijakan atau peraturan organisasi mulai dari yang menikmati atau memaksa untuk menikmati, selama masih dalam satu ruang repertoar atau satu payung organisasi maka harus tetap menjaga proses bisnis bergulir dan digulirkan agar nafas organisasi ajeg hidup dan langgeng bertumbuh.
Wassalam.
Masih terngiang di ingatan saat Jum’at sore jelang maghrib di Dahana Jakarta, di petak 4 X 6 m ruang GM DTU, sebuah repertoar gitar klasik pernah berlangsung, sebuah hadiah khusus bagi dua audiencenya.
Dentingan-dentingan nada yang lahir dari senar nylon hasil permainan jemari di petak fingerboard 19 fret, Kombinasi lintasan jemari kiri dengan gerakan horizontal maupun petikan jari-jari tangan kanan yang melintas keenam dawai secara vertikal berhasil menciptakan pitch yang nyaris sempurna, lincah mendenting mulai dari Capriccio,Op.1 No.24, Romance de Amor, beberapa gubahan Chopin sampai Ayat-ayat Cinta-nya Rossa. Alunan gitar klasik yang telah hadir sejak tahun 1700an dengan nama viheula ini seakan fasih bertutur, membahasakan deret demi deret partitur yang memenuhi gendang kuping, laksana opium nan tenang membius dan seolah membawa sejenak raga ke dimensi lain, jauh meninggalkan dunia nyata. Sejenak nafikan riak-riak di awal tahun dari mulai menjamurnya demontrasi yang pasti berujung ricuh, kacaunya distribusi BBM, membaranya perang di jalur gaza, sampai polemik internal dari mulai SKEP baru penggunaan mess, asuransi kesehatan, pemutihan email, LPJ konsultan budaya sampai bursa calon direksi.
laiknya seperti mengikuti repertoar musik klasik, beberapa gubahan musik klasik bisa jadi terasa berat di kuping dan memusingkan, namun terbukti klinis efektif bagi ibu-ibu hamil untuk merilekskan diri dan janin diperutnya dengan stimulasi kognitif yang mampu menstimulasi perkembangan sel-sel otak bakal oroknya secara seimbang. Pun dalam menjalani hidup dalam suatu lingkup organisasi dengan segala dinamika dan pernik pasang surutnya, amat jadi beberapa yang tidak suka atau kurang nge-tune dalam menangkap esensi keindahannya memilih untuk langsung meninggalkan repertoar. Beberapa yang tetap tinggal bisa jadi karena mencoba adaptif atau bahkan sudah mampu memuarakan keindahannya, namun bisa jadi juga karena memaksakan diri bertahan dengan segala ketidaknyamanan yang diterima karena alasan dan pertimbangan masing-masing.
Konsistensi latar nada yang selalu mengalun didalamnya yang memuskilkan lahirnya jeda agar tetap terciptanya harmoni dan keindahan dengan keteraturan di dalam pakemnya yang tegas karena kekuatan dogma bernama susunan partitur, untuk lingkup organisasi dapat diartikan bahwa setiap riak yang melingkupi perputaran proses bisnis dengan rentang penerimaan terhadap kebijakan atau peraturan organisasi mulai dari yang menikmati atau memaksa untuk menikmati, selama masih dalam satu ruang repertoar atau satu payung organisasi maka harus tetap menjaga proses bisnis bergulir dan digulirkan agar nafas organisasi ajeg hidup dan langgeng bertumbuh.
Wassalam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar